Pembangunan Masjid Nurul Islam

MLIFE.ID — Disaster Management Center Dompet Dhuafa (DMC DD) sukses merampungkan pembangunan kembali Masjid Nurul Islam di  Dusun Gol, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, yang hancur akibat gempa 2018. Kini warga sekitar sudah dapat kembali melakukan aktivitas ibadah dan sosial di masjid tersebut.

“Alhamdulillah, pembangunan dibantu warga, juga aparat yang sedang bertugas akhirnya masjid berhasil dibangun kembali. Ini adalah komitmen Dompet Dhuafa dalam fase recovery pasca bencana,” kata Shofa Al Quds, manajer respon DMC DD, beberapa hari lalu.

Ketika gempa melanda Pulau Seribu Masjid itu pada Juli 2018, bangunan Masjid Jami Nurul Islam hancur total sehingga sekitar 2.500 warga di Dusun Gol tidak punya lagi fasilitas tempat beribadah.

“Masjid hanya ada di situ. Ada yang lain, namun hanya mushala kecil, tidak cukup untuk shalat Jumat,” jelas Shofa Al Quds seperti dilansir laman dompet dhuafa, Selasa (9/7/2019).

Progam renovasi masjid tersebut masuk dalam fase recovery. Di mana kehadiran masjid sangat penting untuk mengembalikan ritme kehidupan warga.

Masjid memiliki fungsi beragam dan menjadi pusat peradaban masyarakat Lombok. Bukan hanya untuk beribadah, masjid juga biasanya dimanfaatkan masyarakat untuk musyawarah, tempat anak-anak belajar agama, atau arena sosialis lainnya.

Pembangunan kembali Masjid Nurul Islam yang diiniasi oleh DD berlangsung secara swadaya dan gotong royong. Tim DD yang bahu membahu dengan warga dan aparat membutuhkan waktu cukup lama untuk menyelesaikannya.

Kegiatan sanlat Ramadhan 2019

Selama proses pembangunan kembali masjid terebut, Dompet Dhuafa juga terus berusaha membantu warga setempat melakukan berbagai aktivitas keagamaan. Misalnya, beberapa waktu lalu Tim DMC menggelar program Pesantren Kilat Ramadhan 1440 Hijriah. Pesantren Kilat Ramadhan Dompet Dhuafa ini digelar untuk penyintas (orang yang selamat dari bencana) gempa di Dusun Gol pada 30 Mei – 1 Juni 2019.

Menurut Dai Muda Cordofa (Corps Da’I Dompet Dhuafa) Riau, Ustaz Surya Aripin, yang memimpin sanlat tersebut, setiap harinya kegiatan diawali dengan shalat tahajud berjamaah pukul 03.00 WIT yang diikuti juga oleh masyarakat setempat. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan sahur bersama dan shalat subuh berjamaah, dzikir, serta doa.

Setelah itu di lanjutkan kultum subuh oleh Ustaz Surya Aripin dan diakhiri dengan olah raga lalu dan istirahat. “Menariknya, olah raga pagi mereka dillakukan di pinggir pantai dengan tema acara ‘bersama anak-anak harapan bangsa’ ini berlangsung penuh kebahagiaan dan diakhiri dengan maraton pagi ke tepian pantai dengan tema ‘Indahnya Pagiku’,” tutur Surya.

Ustaz Surya mengatakan, peserta pesantren kilat terdaftar sebanyak 56 santri. Sementara para pemateri didatangkan dari tim Cordofa, tokoh agama dan pemuda/pemudi masjid Nurul Islam Dusun Gol.

Meski kondisi masjid saat itu masih belum sepenuhnya pulih namun situasi itu tak mengurangi semangat peserta sanlat. Kini warga Dusun Gol tidak lagi merasakan terik matahari ketika beribadah. Mereka kembali bisa berkumpul untuk shalat Jumat berjamaah. Pusat peradaban Dusun Gol pun kembali hidup. @

 

 

 

111 total views, 2 views today

LEAVE A REPLY