MLIFE.ID – Suspension Bridge atau Jembatan Gantung Situgunung di Sukabumi, Jawa Barat, merupakan salah satu destinasi wisata sangat populer saat ini. Setiap hari, terutama pada akhir pekan, ramai dikunjungi ribuan pelancong. Bahkan pada libur lebaran 1440 H (awal Juni 2019) lalu, obyek wisata yang biasanya buka hingga pukul 17.00 sore terpaksa baru tutup pada pukul 23.00 malam.

Jembatan Gantung Situgunung disebut merupakan jembatan gantung terpanjang, yang berada di tengah hutan, di Asia Tenggara. Bentangannya mencapai 243 meter, dengan lebar 1,8 meter, dan ketinggian 121 meter di atas permukaan tanah.

Hal itu menimbulkan sensasi sendiri bagi pengunjung. Dibutuhkan nyali yang besar untuk bisa melewati jembatan yang selalu bergoyang di atas rimbunnya hutan dan jurang yang sangat dalam.

Jembatan gantung itu terpasang dengan kawat baja kokoh dan masing-masing ujungnya berada di tepi tebing. Beban maksimal yang bisa ditahan oleh jembatan ini adalah maksimal 90 orang dewasa.

Rangka baja dengan alas kayu menjadi bahan utama yang membuatnya semakin terlihat indah dan alami. Dari atas jembatan, pengunjung dapat melihat keindahan hutan yang masih rimbun dan hijau yang kadang dipenuhi kabut sehingga udaranya terasa sejuk.

Lokasinya berada di Taman Wisata Alam Situgunung, Kadudampit, Sukabumi, Jawa Barat. Lokasi ini sudah dikenal lama sebagai salah satu tempat tujuan wisata dan merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Namun baru beberapa tahun ini berkembang menjadi favorit setelah dilakukan pembenahan, termasuk dibangunnya jembatan gantung.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) seluas 24.270,80 Ha secara administratif berada di tiga kabupaten yaitu Cianjur, Sukabumi dan Bogor. Taman nasional ini merupakan salah satu dari lima taman nasional pertama di Indonesia yang diumumkan oleh Menteri Pertanian pada 6 Maret 1980.

Sebelum ditetapkan sebagai TNGGP, kelompok hutan tersebut ditetapkan sebagai zona inti Cagar Biosfer Cibodas oleh UNESCO pada Tahun 1977.

Kawasan TNGGP memiliki banyak keindahan alam yang berpotensi menjadi objek wisata alam di antaranya berupa air terjun, air panas, gua, jalur pendakian, dan danau. Salah satu dari keindahan-keindahan tersebut adalah Kawasan Situgunung.

 

Jembatan Gantung Situgunung pertama kali dibangun pada pertengahan tahun 2017 atas kerja sama Balai Besar TNGGP dengan PT Fontis Aqua Vivam. Proses pembangunan jembatan dilakukan secara manual dengan melibatkan warga lokal dan tenaga ahli dari Bandung.

Jembatan gantung itu terpasang dengan rangka baja dan kawat baja kokoh. Bahan dasarnya berupa kayu ulin atau kayu besi yang didatangkan langsung dari Papua. Kayu jenis ini  dipilih karena memiliki beberapa kelebihan, antara lain, lebih tahan terhadap perubahan suhu dan kelembapan, berat dan keras, serta tidak mudah dimakan rayap.

Meskipun tidak menggunakan alat berat, pembangunan jembatan ini selesai dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, lebih tepatnya dikerjakan selama empat bulan. Untuk keselamatan dan kenyamanan, selama pembangunan, dilakukan pendampingan teknis dari Puslitbang Jalan dan Jembatan – Kementerian PUPR.

Pada Sabtu, 9 Maret 2019, Situgunung Suspension Bridge diresmikan oleh Menko Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan. “Saya senang betul karena jembatan ini hasil karya anak bangsa. Pemerintah pasti back up,” ujar Luhut.

Hanya dalam waktu sekitar satu minggu sejak dirilis dan dibuka sementara, jembatan gantung Situgunung telah menjadi salah satu ikon wisata Sukabumi yang viral di Indonesia.

Sejak pertama dibuka sementara pada 15 Juni 2018, setidaknya lebih dari seribu orang datang setiap hari untuk merasakan sensasi menaiki jembatan gantung tersebut. Hal itu diungkapkan Dede Asad, salah satu founder PT Fontis Aquam Vivam.

Menurutnya lebih dari 20 ribu pengunjung yang datang untuk merasakan sensasi jembatan saat soft lounching jembatan 15-30 Juni 2018 lalu. “Iya ada ribuan setiap hari, terutama saat weekend,” ujar Dede.

Viralnya jembatan gantung Situgunung diakui masyarakat desa sekitar membawa manfaat bagi kehidupan mereka. Sebelum adanya jembatan gantung, kawasan wisata Situ Gunung tidak banyak dikunjungi wisatawan.

Pengunjung umumnya hanya datang saat akhir pekan dan dalam jumlah terbatas, hanya sekitar puluhan pengunjung. Selama ada jembatan dibuka jadi sangat ramai.

Bupati Sukabumi, Marwan Hamami mengatakan, keberadaan jembatan gantung Situgunung dapat mendatangkan para wisatawan ke Sukabumi. “Pengembangan wisata alam ini akan dibarengi penyediaan kawasan kuliner dan hotel. Oleh karena itu, kami juga bekerja sama dengan Pemerintah Kota Sukabumi,” kata Marwan.

Jembatan ini sekaligus merupakan jalan pintas bagi para pelancong yang hendak menuju air terjun Curug Sawer melalui gerbang Situgunung. Air terjun setinggi 35 meter ini berjarak 1,7 kilometer dari pintu masuk dengan menelusuri jalur hutan Situgunung. Namun dengan melewati jembatan, pengunjung hanya tinggal berjalan sekitar 300 meter menuruni jalan menurun menuju air terjun.

Theater outdoor

Di area sekitar wahana jembatan gantung juga dibangun beberapa fasilitas penunjang wisata lainnya. Salah satunya amphitheater sebagai tempat pertunjukan seni budaya tradisional yang biasanya menampilkan kesenian lokal warga sekitar.

Theater ini berupa panggung outdoor yang terbuat dari kayu yang memberikan kesan alami. Biasanya panggung kayu ini menampilkan pertunjukan kebudayaan berupa tarian tradisional dan bela diri yang dengan iringan musik tradisional secara live oleh penampil dari komunitas seni dan budaya setempat dengan penonton di sekeliling panggung duduk atas jajaran bangku kayu berkapasitas 850 orang.

Seni tradisional yang dipertontonkan di sini antara lain Degungan, Karinding, Ngibing, dan Kecapi Suling. Pertunjukan kebudayaan diadakan setiap Sabtu dan Minggu. Pertunjukan dimulai dari pukul 09.00 pagi hingga pukul 05.00 sore.

Panggung kayu ini adalah saksi bisu terjadinya proses pemberdayaan masyarakat, sebagai dampak positif dari keberadaan ODTW Situgunung. Selain menyuguhkan hiburan tradisional Sunda, di panggung ini pula diselenggarakan sebuah proses edukasi, terjadi interaksi antara pengunjung dengan para ahli seni yang tergabung dalam dewan keseniaan setempat.

Sebelum memasuki area theater, pengunjung dipersilakan menukarkan bagian tiket dengan makanan dan minuman yang segar dan hangat. Biasanya makanan yang disediakan berupa rebusan pisang, singkong, ubi, atau kacang. Sementara minumannya bisa memilih teh manis atau kopi.

Pengelola juga menyediakan resto berbayar bernama Restoran De’ Balcone. Resto De’Balcone dibangun dengan konsep terbuka untuk memberikan kesempatan pengunjung untuk menikmati hidangan sekaligus pemandangan Situgunung. Resto ini juga menyediakan balkon dan spot swafoto bagi pengunjung dengan latar belakang hutan dan jembatan gantung Situgunung.

Fasilitas umum seperti mushola, toilet, dan lahan parkir juga tersedia dengan cukup baik dan memadai. Begitu juga jalan dari gerbang awal menuju jembatan gantung lumayan lega dan bersih meski terbuat dari tanah dan bebatuan alam.

Untuk menyeberangi jembatan gantung, pengunjung dikenakan Rp 50 ribu per orang. Pengunjung bisa empat kalilipatnya. Dengan harga tiket tersebut penngunjung juga dapat menikmati makanan ringan dan minuman panas teh atau kopi satu kali secara gratis.

Sementara harga tiket gerbang utama kawasan situgunung Rp 18.500 per orang. Parkir mobil Rp 10 ribu, sedangkan sepeda motor Rp 5.000.

Bukan hanya jembatan gantung

Kawasan Situgunung bisa dibilang kini menjadi destinasi pariwisata yang potensial. Lokasinya yang dekat dengan Jakarta, menjadikan Sukabumi menjadi salah satu pilihan masyarakat Ibukota berlibur. Rutenya bisa ditempuh menggunakan kendaraan mobil atau kereta api.

Situgunung Sukabumi terletak pada ketinggian kurang lebih 850 mdpl. Yang perlu diperhatikan jika pergi ke sini adalah stamina karena untuk mencapai beberapa spot wisata di sini harus berjalan kaki dan jaraknya  cukup jauh. Ada tiga spot wisata utama di sini, yakni Danau Situgunung, Curug Sawer, dan Jembatan Gantung Situgunung. Ada juga areal perkemahan.

Di danau, wisatawan juga bisa diajak berkeliling danau dengan menggunakan perahu kayu. Di air terjun bisa menikmati air yang dingin yang jernih. Sayang di kolam air terjunnya wisatawn tak boleh mandi demi alasan keamanan.

Untuk pengunjung yang tidak menginap atau berkemah, maka waktu kunjungannya dibuka sejak pukul 06.00 pagi hingga pukul 17.00. Khusus untuk jembatan gantung, pada hari-hari libur besar bisa buka sampai pukul 23.00 tergantung jumlah pengunjung yang datang.

Pada libur hari raya Idul Fitri 1440 H (Juni 2019) pengunjung berkisar antara 4.000-5.000 per hari. Mengingat kapasitas jembatan yang hanya boleh 90 orang maksimal, maka mereka bisa antre hingga tiga jam. Maka pengelola terpaksa buka hingga pukul 23.00. Selamat mencoba. @

59 total views, 3 views today

LEAVE A REPLY