MLIFE.ID – Pemerintah terus melakukan langkah konkret guna memajukan wilayah di sekitar Jembatan Suramadu, Jawa Timur. Menurut Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa, pihaknya telah menyiapkan kawasan islami yang terintegrasi di kaki jembatan Suramadu, yaitu Indonesia Islamic Science Park (IISP). Visi besarnya pemerintah akan menjadikan IISP sebagai gravitasi dan sentra keuangan syariah dunia.

Kawasan IISP merupakan kawasan modern dengan desain ramah milenial dan serba digital. Khusus museum IISP, bangunannya nanti akan berbentuk piramida dengan format kearifan lokal.

“Lahan yang diperlukan untuk membangun kawasan tersebut adalah 101 hektare, dan porsi wahana yang akan dibangun di tempat rekreasi itu adalah 20% untuk education, 30% untuk art, dan 50% untuk entertainment,” jelas Khofifah saat menghadiri Rapat Koordinasi Pembahasan tentang Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS), di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, pekan lalu.

Taman rekreasi bernuansa islami yang akan jadi pionir di Indonesia itu akan dikembangkan Pemerintah Provinsi Jatim bekerja sama dengan developer yang membangun Jatim Park. Selain itu, untuk melengkapi arena tersebut, juga akan didirikan pusat kuliner halal dan museum augmented reality yang menceritakan kisah Wali Songo.

“Kemudian, kami juga akan mengembangkan kampung keris dan kampung batik agar bisa menjadi referensi tentang kekayaan Madura ke dunia. Tujuannya agar Indonesia secara umum, dan khususnya Madura bisa menjadi tujuan wisata muslim internasional,” jelas Khofifah.

Masyarakat Madura pun, lanjut Gubernur Jatim, diharapkan akan semakin menerima industri yang masuk ke wilayah jika itu bisa meningkatkan citra mereka sebagai wilayah yang religius.

Menyoal sumber daya alam, seperti yang diketahui bahwa selain sebagai penghasil garam, menurut Gubernur Jatim KhofifahIndar Parawansa, Madura juga mempunyai perkebunan tebu yang luas. Namun, infrastruktur yang berupa pabrik gula belum terbangun di sana. Maka itu, diharapkan pabrik gula akan dapat diwujudkan secepat di sana.

“Saya sudah ketemu dengan tokoh-tokoh di Madura, dan mereka yang malah merekomendasikan membangun pabrik gula,” ujar Khofifah.

Rencana pengembangan wilayah sekitar Jembatan Suramadu, dengan membangun Islamic Science Park dan pabrik-pabrik gula juga telah disetujui oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dalam Rapat Koordinasi itu.

Di sisi lain, Gubernur Jatim pun diminta mengusulkan nama-nama Bupati dan/atau Kepala Dinas setempat untuk bergabung dalam struktur organisasi BPWS. Untuk posisi Dewan Penasihat, Menko Darmin juga mengusulkan untuk mengajak serta ulama dan tokoh masyarakat yang berpengaruh di Madura.

Sentra desiminasi islam

Indonesia membangun Islamic Science Park telah juga dibahas Khofifah saat bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan.

“Kami harap IISP akan jadi sentra diseminasi Islam secara internasional dengan Islam wasathiyah, Islam garis tengah, Islam yang penuh damai, Islam yang penuh kasih,” kata Ketua Muslimat NU ini.

Dalam prosesnya, Khofifah mengatakan lahan yang tersedia baru sekitar 60 hektare. Oleh karena itu, ia mengatakan akan memulai pembangunan Taman Sains Islam tersebut secara bertahap, tidak harus menunggu semua lahan tersedia.

“Kita bisa bangun 10 hektare dulu. Kemudian kita tambah lagi, dan masih ada opsi reklamasi. Karena reklamasi kewenangan Pemprov, untuk persiapan reklamasi saya sudah koordinasi dengan Pak Luhut,” ujar mantan Menteri Sosial ini.

Khofifah menjelaskan, prototipe IISP di antaranya Islamic Museum dan perpustakaan. Desainnya akan dibuat ramah milenial dan serba digital. Bangunan museum IISP nantinya akan berbentuk piramida dengan format kearifan lokal.

“Tapi basically, kami ingin memanggil keuangan syariah dunia. Jadi basis dan visi besarnya kami ingin panggil dan jadikan IISP sebagai gravitasi keuangan syariah dunia dan jadi sentranya ada di Indonesia, dan Jawa Timur di bagian pintu masuk Madura,” katanya.

Rencana pembangunan IISP terus dimatangkan Pemprov Jawa Timur dan Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS). Pematangan itu terutama menyangkut upaya mensinergikan gagasan Gubernur Jatim dengan konsep BPWS sehingga tidak terjadi tumpang tindih atau overlap.

“Kami ada juga konsep wisata di 600 hektare pesisir pantai KKJSM (Kawasan Kaki Jembatan Suramadu sisi Madura),” jelas Kepala Divisi Data dan Informasi BPWS Pandit Indrawan pekan lalu, “Lahan 600 hektare KKJSM bisa dipakai untuk sarana jika diperlukan.”

 

Rest area sisi Barat Jembatan Suramadu

Seperti diketahui, pengembangan kawasan seluas 600 hektare KKJSM masuk dalam perencanaan Kementerian PUPR. Kawasan tersebut disebut mempunyai nilai potensi investasi mencapai Rp 53 triliun.

KKJSM meliputi kawasan industri dan pergudangan seluas 320 hektare, pariwisata seluas 21 hektare, Central Business District (CBD) seluas 52,6 hektare, dan pemukiman seluas 115,4 hektare, dan fasilitas umum (rest area) seluas 67,7 hektare.

Saat ini, lanjut Pandit, BPWS telah membebaskan seluas 40 hektare dari 600 hektare di KKJSM untuk pembangunan rest area. “Seluas 10 hektare di sisi barat Jembatan Suramadu telah dibangun rest area. Sedangkan 30 hektare di sisi timur belum dibangun,” paparnya.

Selain membangun rest area, di kawasan 40 hektare itu BPWS melanjutkan pembangunan objek wisata bibir pantai di KKJSM. Wahana wisata pantai yang dilengkapi dengan taman rekreasi itu berada di kawasan 4 hektare, di sisi timur dan barat Jembatan Suramadu.

Pandit menambahkan, BPWS masih menunggu konsep yang akan dipakai dalam pembangunan IISP. Apakah menggunakan konsep di bibir pantai atau mereklamasi?

“Landscape sudah ada. Tapi kami belum tahu floating-nya di mana. Namun yang pasti, kami akan mensinergikan dengam gagasan Ibu Gubernur,” pungkasnya seperti dikutip laman surya.co.id.@

 

 

 

131 total views, 1 views today

LEAVE A REPLY