Foto: ilustrasi/stimewa

MLIFE.ID — Kementerian Perindustrian mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat pihaknya akan mengembangkan empat kawasan industri halal di dalam negeri. Pengembangan tersebut sudah masuk dalam rencana pengembangan kawasan industri halal di Indonesia.

Direktur Perwilayahan Industri Direktorat Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Ignatius Warsito mengatakan kawasan tersebut adalah Batamindo Industrial Estate, Bintan Industrial Park, Jakarta Industrial Estate Pulogadung, dan Modern Cikande Industrial Estate.

“Keempatnya (pengembang) telah mengajukan diri ke Kemenperin untuk mengembangkan kawasan industri halal,” ujar Direktur Perwilayahan Industri Direktorat Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Ignatius Warsito mengatakan seperti dilansir website Kementerian Perindustrian, Selasa (18/6).

Untuk Batamindo Industrial Park, pengembang kawasan berencana mengembangkan zona halal seluas 17 hektare (ha) dari total area seluas 320 ha. Untuk Bintan Industrial Estate akan mengembangkan zona halal seluas 100 ha dari lahan seluas 320 ha.

Untuk Modern Cikande pengembangan akan dilakukan di lahan seluas 500 Ha. Sedangkan untuk Jakarta Industrial Estate Pulogadung, pengembang berencana mengembangkan zona halal untuk produk mode, farmasi dan kosmetik, pusat makanan, laboratorium halal, serta halal center.

Warsito optimistis bakal banyak perusahaan yang berminat masuk ke dalam kawasan industri halal. Keyakinan didasarkan seiring berkembangnya tren penggunaan produk halal yang semakin meningkat.

“Bahkan, bukan hanya sektor industri, di dalam kawasan tersebut nantinya juga ada banyak sektor pendukungnya. Mulai dari kantor sertifikasi halal hingga transportasi logistiknya yang juga halal. Jadi, akan ada pelayanan sertifikasi halal yang bisa one stop service di sana, dia punya laboratoriumnya, dan tenaga verifikasinya,” paparnya.

Warsito menambahkan, dalam pengembangan kawasan industri halal, Kemenperin memiliki tugas untuk menetapkan standardisasi, memberikan insentif, serta memfasilitasi promosi dan kerja sama teknis. Nantinya, aspek-aspek tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memperkirakan industri halal memiliki masa depan yang cerah seiring besarnya permintaan produk halal baik di masyarakat domestik maupun global. Atas kondisi itulah, tahun ini pemerintah menargetkan nilai perdagangan industri halal bisa menembus US$25 miliar. Target tersebut, naik 20 persen dibandingkan pencapaian tiga tahun lalu.

Selesai 2020

Sebelumnya, Direktur Jenderal (Dirjen) Pengembangan Perwilayahan Industri Kemenperin Imam Haryono mengatakan, kawasan industri halal diperlukan karena permintaan produk halal di dunia terus mengalami peningkatan.

Kawasan tersebut ditargetkan selesai sebelum 2020. Langkah ini diambil untuk menggagalkan ambisi Thailand yang menargetkan menjadi negara eksportir produk halal terbesar kelima di dunia.

Dia menjelaskan, kawasan industri halal adalah kawasan industri yang di dalamnya semua industri menerapkan atau sesuai dengan standar Islam mulai dari hulu sampai hilir. “Saat ini kami sedang berdiskusi dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk merealisasikan hal itu,” kata Imam di Jakarta, kemarin.

Kawasan industri halal perdana akan difokuskan bagi produksi makanan minuman, kosmetika, obat-obatan, dan fashion yang menggunakan standarisasi halal.

Menurut Imam, produk halal memiliki prospek bagus karena citranya lebih baik. Banyak orang berani membayar lebih mahal untuk mendapatkan produk-produk halal.

“Kalau produk dilabeli halal kesannya lebih baik. Semua tertangani dengan baik mulai dari bahan baku, pengemasan sampai distribusi. Penduduk Muslim dunia 1,8 miliar juta jiwa. Tapi yang non Muslim kini mulai memiliki persepsi kalau produk halal itu sudah pasti baik karena semua proses terkontrol dan ada standarnya,” jelasnya.

Imam menuturkan, rencananya kawasan industri halal akan dipilih di Pulau Jawa karena di Jawa sudah banyak sekali kawasan industri sektor consumer goods. Untuk pengelolaanya, pemerintah ingin menyerahkan kepada salah satu pelaku usaha yang dianggapnya sudah mengetahui standar-standar produksi halal yang baik.

“Yang kami sediakan adalah fasilitasnya.Tapi pengelolanya kami harapkan dari pelaku usahanya,” ucapnya.

Imam mengatakan, tahap awal pemerintah tidak akan langsung membangun kawasan industri halal, namun diujicobakan di dalam sebuah zona khusus.

“Kami harapkan sebelum 2020 sudah bisa. Tapi memang kami harus cepat-cepat membangun kawasan industri halal,” ujarnya.

Imam yakin, kawasan industri halal akan terbentuk karena banyak pelaku usaha sudah memiliki kemampuan untuk memproduksi barang ekspor dengan standar Islam.

Sebagai informasi, nilai ekspor produk halal dunia pada 2014 mencapai 1,1 triliun dolar AS dan ditargetkan mencapai 1,6 triliun dolar AS di tahun 2018. Nilai produk halal Thailand sendiri berada di angka 6 miliar dolar AS sepanjang 2014. Sementara itu, pertumbuhan nilai ekspor produk halal dari Indonesia di 2011 hingga 2014 sebesar 11,17 persen.

Menurut data Kemenperin, saat ini ada 74 kawasan industri di Indonesia dengan total luas mencapai 36,29 ribu hektare. Dari angka tersebut, 50 di antaranya berada di pulau Jawa dengan luas 26,12 ribu hektar, atau sekitar 71,9 persen dari total lahan kawasan industri tersebut. @

 

 

194 total views, 3 views today

LEAVE A REPLY