Joko Intarto, praktisi media & webinar / owner Sekolah Bisnis Wira.

Oleh: Joko Intarto

Bisakah webinar digunakan untuk menyelenggarakan kursus Bahasa Mandarin? Jawabnya: Bisa. Sangat bisa.

Kursus Bahasa umumnya terdiri atas dua bidang. Pertama percakapan. Kedua penulisan. Pengajaran menulis Mandarin relatif lebih sulit secara teknis. Sebab, hurufnya berbeda. Sama seperti menulis dalam Bahasa Jepang, Korea dan Arab. Ada proses konversi dari huruf latin.

Dulu, waktu kuliah, 40 tahun lalu, saya pernah mengikuti kursus Bahasa Mandarin, di Akademi Bahasa Asing (ABA) di Semarang. Sayangnya saya kurang tekun dan tidak sabaran. Belum genap enam bulan sudah berhenti.

Yang paling sulit dalam berbahasa Mandarin menurut saya adalah belajar menulis. Aksaranya unik. Guru di depan kelas menulis di papan tulis. Siswa mengikuti. Tidak hanya hasilnya harus sama. Cara menggerakkan pensil pun harus sama. Dimulai dari mana. Berakhir di mana. Tidak boleh dikreasi sendiri.

Bagaimana dalam kursus online? Apakah siswa bisa mengikuti cara menulis yang diajarkan guru? Kan tidak saling ketemu? Gurunya di kota mana. Muridnya di kota mana.
Pertanyaan itu yang dilontarkan Bu Lily, Ketua Indonesia Tionghoa Culture Centre (ITCC) di Surabaya. Saat saya tawarkan membuat kursus online Bahasa Mandarin. Menggunakan webinar. ‘’Mengajarkan cara menulisnya piye?’’ tanya Bu Lily.

Platform webinar yang lama memang tidak bisa mengakomodasi. Tapi sekarang sudah maju. Sudah ada fitur baru: Whiteboard. Aplikasi menulis di papan tulis digital. Memang menggunakan gadget berlayar sentuh dengan digital pen. Tapi, semua handphone kan sudah touch screen? Jadi tidak ada masalah.

Teknisnya: guru mengajar menulis Mandarin dengan perangkat yang memiliki touch screen dan digital pen. Siswa melihat di layar masing-masing. Lalu mengikuti instruksi guru dengan menulis pada kertas.

Bagaimana cara guru melihat kemajuan murid dalam menulis Mandarin? Tentu menggunakan fitur yang sama: Whiteboard apps itu. Siswa bisa memeragakan menulis satu per satu. Dari tempat masing-masing. Bergiliran. Guru memperhatikan dari layarnya sendiri.

Bu Lily lantas mencoba fitur whiteboard. Dia berperan sebagai guru. Saya menjadi siswa. Bu Lily menulis. Saya yang membaca. ‘’Empat ratus,’’ kata saya saat Bu Lily menulis angka 400.

Simulasi beberapa menit itu ternyata menginspirasi Bu Lily. ‘’Kalau begitu, kita bisa membuat audisi online untuk mengetahui seberapa baik kemampuan peminat dari luar kota dalam berbahasa Mandarin,’’ kata Bu Lily.

Mahasiswa penerima beasiswa dari ITCC memang berasal dari berbagai kota di Indonesia. Dari Sumatera hingga Papua. Selama ini, mereka hanya bisa bertemu dengan pengurus ITCC secara offline. Webinar membuka peluang untuk komunikasi jarak jauh. Termasuk melakukan audisi itu. (jto)

*Penulis praktisi media & webinar, owner Sekolah Bisnis Wira.

50 total views, 3 views today

LEAVE A REPLY