MLIFE.ID – Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di pondok pesantren Wali Barokah, Kediri, Jawa Timur. Pembangkit yang dibangun dengan bantuan NASA tersebut merupakan PLTS ponpes terbesar pertama di Tanah Air yang mampu menghasilkan daya maksimal satu juta Watt.

Pembangunan PLTS berukuran 40 m x 41 meter di ponpes tersebut menelan biaya sekitar Rp 10 miliar. Menurut pakar PLTS yang merupakan aplikator PLTS di Ponpes Walibarokah, Horisworo, dengan pertimbangan untuk memberikan manfaat yang lama, maka dana yang terkumpul secara gotong royong warga LDII tersebut dibelikan panel surya (Solar Cell) kelas premium grade buatan Kanada.

“Maka harganya, termasuk peralatan penunjangnya mencapai 10,1 Milyar Rupiah. Dengan potensi umat yang besar ini harus diwujudkan dengan membeli premium grade buatan Kanada. Sayang bila hanya beli buatan Cina yang harganya lebih murah,” tuturnya.

“Yang perlu dipahami mahalnya itu didepan saja. Dengan adanya garansi 25 tahun dari produsennya, maka yang dari Kanada ini jatuhnya malah lebih efisien,” kata Horisworo saat memberikan pemaparan di lokasi PLTS ponpes tersebut.

Pondok Pesantren Wali Barokah (PPWB) merupakan salah satu pesantren terbesar di Kota Kediri. Dengan murid mencapai 5.000 orang, pesantren ini membutuhkan pasokan energi listrik yang besar.

Ketua DPP LDII Prasetyo Sunaryo mengatakan, selama ini pondok pesantren masih tergantung kepada perusahaan listrik negara (PLN) dalam membantu penerangan di lingkungan pondok. Akibatnya beban biaya yang ditanggung terus meningkat seiring dengan besarnya pemakaian listrik.

“Berkaca dari hal tersebut, DPP LDII melakukan terobosan berupa pembangunan PLTS sendiri. Sebagai tahap awal, dibangun di Ponpes Wali Barokah kota Kediri,” kata Prasetyo Sunaryo.

Pengembangan PLTS yang terbesar di Indonesia untuk ponpes ini, menurut Prasetyo merupakan bentuk pemanfaatan dan penerapan energi baru terbarukan (EBT) sesuai dengan rencana jangka panjang organisasi.

“Ponpes yang menggunakan sebesar PLTS ini yang pertama di Indonesia. Ini wujud paradigma khusus tidak cukup dengan cara pandang perbandingan harga saja. Pendayagunaan EBT komparasinya bukan terhadap harga BBM, tetapi harus terhadap pengandaian apabila terjadi kelangkaan energi bahan bakar minyak. Ini yang menjadi pemahaman organisasi yang kita terapkan,” tambah Prasetyo.

“Khusus energi matahari, karena Indonesia sebagai negara tropis tidak ada musim salju, sehingga energi matahari tersedia sepanjang tahun. Dari perspektif religius, penggunaan energi matahari merupakan manifestasi kesyukuran kepada Allah yang mengkaruniakan Indonesia dengan sinar matahari yg tak ternilai harganya,” imbuhnya.

Sementara Pimpinan Ponpes Walibarokah, KH Soenarto, mengaku pihaknya ingin mensyukuri anugerah Allah berupa sinar matahari, untuk menjadi energi listrik sebagai sarana penerangan pondok sehingga terjadi penghematan biaya pengelolaan pondok secara signifikan.

“Untuk ke depannya ada wacana menjadikan ponpes ini sebagai wisata religi dan edukasi teknologi PLTS sehingga menginspirasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam penerapan Energi Baru Terbarukan,” kata pria asal Klaten tersebut.

Bantuan NASA

Dengan pemasangan panel surya seluas 41 meter x 40 meter di atas masjid, mampu menghasilkan 521 ribu KWH. Namun menurut Horisworo, PLTS yang dibangunnya nantinya bisa menghasilkan satu juta Watt daya secara maksimal. Saat ini belum dioptimalkan seluruhnya, karena kebutuhan ponpes dengan 5.000 santri tersebut sudah terpenuhi dan masih ada banyak kelebihan.

Penerangan di ponpes yang terletak ditengah Kota Kediri tersebut, juga sangat bagus. Hal ini membuat santri lebih nyaman belajar dan beraktifitas serta kondisi tersebut didapat dengan efisien karena memanfaatkan PLTS.

Prinsipnya ponpes Walibarokah sudah mempraktekkan dan berinvestasi jangka panjang dalam bidang EBT. Pembangunan dan pengembangan ponpes adalah sebuah keniscayaan, dan kami sudah menabung, sudah berinvestasi untuk mandiri energi, memanfaatkan karunia Allah.

“Maka kami serius membangunnya, sampai untuk penentuan titik di mana intensitas sinar matahari terbesar, kami minta bantuan satelit NASA. Ya, di gedung inilah yang intensitas sinar matahari tertinggi (dibandingkan beberapa gedung di ponpes tersebut),” papar pria asal Banyumas tersebut.

Selain PLTS, Horisworo juga sedang merencanakan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bio Masa (PLTBM) dengan memanfaatkan sampah harian dari warga ponpes Walibarokah yang jumlahnya ribuan orang. “Dari sampah atau sesuatu yang dibuang bisa kita manfaatkan menjadi energi,” ujar pria yang bermukim di Bandung ini.

“Dengan berbekal pengalaman telah membuat PLTMB di Bandung, saya punya keinginan bisa menghadirkannya di ponpes ini. Potensi dari sampah di sini sangat besar, dan bisa makin mengokohkan kemandirian energi ponpes ini. Tinggal menunggu bagaimana musyawarah pimpinan pondok,” kata Horisworo.

Sebelumnya, pada 2007 ia pernah membangun dan mengembangkan pembangkit listrik mikro hidro (PLTMH) berskala kecil untuk memenuhi kebutuhan energi listrik secara mandiri di pabrik teh Jamus di Ngawi.

Pabrik teh peninggalan Belanda tahun 1928 seluas 478 hektarare itu, semula digarap menggunakan bahan bakar minyak (BBM) dan kayu bakar. Kini semuanya menggunakan listrik secara mandiri PLTMH.

Menurut Purwanto Wahyu, pimpinan Perkebunan Jamus, untuk satu unitnya mampu memghasilkan 100 kwh dengan investasi awal sebesar Rp 1,7miliar. Kemudian setelah itu dibangun satu unit lagi dengan biaya Rp 900 juta dengan menghasilkan 100 kwh dan setahun kemudian disusul pembangunan lagi yang melewati tanah masyarakat dengan menghasilkan 50 kwh. (ys)

 

592 total views, 3 views today

LEAVE A REPLY