Muslim di China. Foto:tribunnews.com

Oleh: Waki Ats Tsaqofi /

Wakil Ketua Tanfidziyah PCINU Tiongkok –

Pada 2015 lalu National Survey Research Center (NSRC) of the School of Philosopy, Renmin University merilis survei agama di China yang menunjukkan bahwa Islam sebagai agama dengan pemeluk anak muda usia di bawah 30 tahun terbanyak di China, melampaui Buddha dan Katolik. Survei ini melibatkan wawancara dari 4.382 situs keagamaan (seperti masjid, kuil, gereja, dan sejenisnya) di 31 wilayah antara 2013 hingga 2015.

Meskipun laporan NSRC dilakukan pada tahun 2015. Tetapi hal ini menunjukkan bahwa perkembangan Islam di China sangat baik. Islam sebagai agama rahmatan lil alamin mampu diterima oleh kalangan muda yang notabene merupakan kalangan yang lebih kritis dan lebih memilih segala sesuatu sesuai dengan keinginan hati.

Dalam hal ini, Asosiasi Muslim China melakukan kaderisasi calon imam (ahong). Para pemuda jebolan dari sekolah pendidikan keislaman menengah yang ada di beberapa kota di China antara lain di kota Qinghai, Lanzhou, Beijing, Kunming, dan Ningxia diberangkatkan untuk studi lanjut ke Mesir, Pakistan, Libiya, Arab Saudi, dan Malaysia, seperti dikutip dari www.chinaislam.net.cn, dengan begini masa depan Islam di China akan tercerahkan.

Sangat disayangkan Asosiasi Muslim China belum memilih Indonesia sebagai tujuan untuk studi lanjut. Saya berharap pemerintah Indonesia melalui Ditjen Pendis Kemenag RI cc Oman Fathurahman Muhtadin Ar A Khoirul Anam bisa melalui PBNU bekerja sama dalam hal pendidikan. Santri Indonesia bisa belajar teknologi atau e-commerce dan sejenisnya di China. Sedangkan pemuda China bisa belajar Islam di Indonesia melalui pesantren atau UIN.

Karena bagi saya muslim di China membutuhkan mitra sekaligus referensi keberadaan umat Islam yang memiliki pola relasi antara agama dengan negara. Indonesia merupakan jawaban yang tepat.

Seperti yang dikatakan Ketua Asosiasi Muslim Chongqing Imam Ismail Ma Yunfeng bahwa Indonesia meskipun bukan negara agama tetapi nilai-nilai Islam diterapkan. Terlebih setelah bertemu Gus Dur di Beijing sekian tahun lalu.

Jika hal ini dilakukan maka hubungan Indonesia dan China bukan sekadar politik saja akan tetapi juga berkontribusi untuk kepentingan Islam. Apalagi secara tradisi Islam di China sama dengan Islam di Indonesia. *

915 total views, 4 views today

LEAVE A REPLY