MLIFE.ID — Emir Qatar Syekh Tamir bin Hamad Al-Tsani mengunjungi kampung Muslim Lamakera, Desa Watobuku, Solor Timur, Kabupaten Flores Timur. Kunjungan tersebut dilakukan setelah berwisata ke Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Wakil Bupati Flores Timur Agustinus Payong Boli saat dihubungi Antara, Ahad (9/6), mengatakan kunjungan Syekh Tamir ke Lamakera adalah kunjungan privasi yang dilakukan bersama rombongannya. Tak ada keterangan resmi mengenai maksud dan tujun kunjungan tersebut. Hanya disebut mereka melakukan wisata.

Lamakera hanyalah sebuah desa kecil yang terletak di pesisir pantai timur Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Selama berabad-abad lamanya, para penghuni desa Muslim itu terkenal sebagai pemburu ikan paus. Namun mereka tidak sembarangan menangkap mamalia laut yang dilindungi itu, seperti halnya dengan masyarakat nelayan di Desa Lamalera, sebuah perkampungan nelayan di selatan Pulau Lembata, Kabupaten Lembata.

Oleh karenanya, orang Lamakera meski bermigrasi ke daerah manapun, ia tetap selalu survive, tak menyerah apalagi bertekuk lutut pada kondisi tantangan alam maupun ancaman yang menghalau, seperti dilukiskan dalam syair ”Tale tale Rante rante, kera murin dore hala”.

Syair ini menggambarkan sosok manusia Lamakera yang idealis, bercita-cita tinggi dan berkarya besar merebut setiap peluang perubahan di masa depan.

Sejak 2015, Desa Lamakera dikembangkan menjadi kawasan wisata bahari, karena di ujung timur Pulau Solor itu masih terdapat sejumlah hewan laut langka yang nyaris punah, seperti ikan paus, hiu, lumba-lumba dan ikan pari manta atau dalam bahasa setempat disebut ikan moku.

Orang Lamakera merupakan nelayan ulung yang memulai tradisi perburuan paus biru dengan hanya bermodalkan tombak atau bahasa setempat disebut gala, dengan bertelanjang dada melesat di atas ganasnya samudera.

Dikutip dari laman Antaranews, konon para laskar dari Desa Lamakera inilah yang memulai tradisi perburuan paus yang kemudian diikuti oleh masyarakat desa serumpunnya Lamalera di selatan Pulau Lembata.

Untuk mencapai Desa Lamakera, memang butuh sedikit perjuangan. Dari Larantuka, Ibu Kota Kabupaten Flores Timur, dapat ditempuh dengan kapal motor selama sekitar dua jam.

Opsi lainnya, bisa dengan kapal motor turun di Waiwerang, Kota Kecamatan Adonara Timur, di Pulau Adonara, baru menumpang perahu kecil atau sampan menuju perkampungan Muslim di ujung timur Pulau Solor itu.

Di Desa Lamakera itu telah berdiri sebuah bangunan masjid nan megah bernama Al-Ijtihad. Bangunan masjid itu memiliki sejumlah menara yang menjulang tinggi sekitar 45 meter menghadap ke selat sempit antara Pulau Solor, Lembata, dan Adonara.

Masjid Al-Ijtihad Lamakera ini dibangun dengan dana swadaya masyarakat Muslim setempat sejak tahun 2012. Masjid Al-Ijtihad mempunyai tujuh pintu, dan masing masing pintu diberi nama sesuai nama tujuh suku yang ada di Lamakera, yaitu Lewoklodo, Ema Onang, Kiko Onang, Lamakera, Hari Onang, Lawerang, dan Kuku Onang.

Desa Lamakera diapit dua buah tanjung, yakni Tanjung Watobuku di sebelah baratnya serta Tanjung Motonwutun di sebelah timurnya. Di tanjung itu terdapat sekumpulan bebatuan dengan bentuk yang unik, sehingga dikeramatkan oleh warga Lamakera.

Jauh sebelum agama Islam masuk di Tanah Solor, kepercayaan nenek moyang masyarakat Lamakera umumnya adalah animisme, seperti di kawasan Indonesia pada umumnya.

Pulau Solor merupakan tempat yang paling strategis bila ditinjau dari segi perdagangan karena berada pada posisi silang pelayaran dari bandar di Pulau Jawa, Sumatera, Makassar ke Maluku atau sebaliknya, dari bandar-bandar di Pulau Jawa, Sumatera, Makassar ke Pulau Timor dan dari bandar di Makassar ke pantai utara Australia.

Lamakera juga memiliki pelabuhan alam yang teduh dan aman sebagai tempat persinggahan kapal dalam rangka menunggu cuaca dan angin yang tepat untuk berlayar.

Itulah sebabnya Lamakera yang terletak di ujung timur Pulau Solor itu sebagai tempat yang paling banyak dikunjungi para pedagang dan pelaut Islam dan merupakan salah satu tempat di NTT yang paling awal menerima masuknya agama Islam.

Kunjungan Privasi

Apakah karena latar belakang sejarah tersebut, kemudian memunculkan ide dari Emir Qatar Syekh Tamir bin Hamad Al-Tsani untuk berkunjung ke Pulau Solor?

Tampaknya tak ada satu orang pun bisa menjawab misteri kunjungan Emir Qatar ke perkampungan Muslim di Desa Lamakera, Pulau Solor itu.

“Kunjungan Emir Qatar ke kampung Muslim di Desa Lamakera lebih bersifat privasi yang dilakukannya bersama rombongan. Saat ini, Emir Qatar bersama rombongan sedang berwisata di Pulau Solor,” komentar Wakil Bupati Flores Timur Agustinus Payong Boli.

Emir Qatar Syekh Tamir bin Hamad Al-Tsani mengunjungi Kampung Watobuku, sebuah perkampungan Muslim di Desa Lamakera, Pulau Solor bagian timur, setelah menikmati liburan di Maumere, Kabupaten Sikka, NTT.

“Emir Qatar pada Sabtu (8/6) siang tiba di Larantuka dan menginap semalam di Ibu Kota Kabupaten Flores Timur itu, sebelum berlayar ke Pulau Solor untuk mengunjungi perkampungan Muslim di Desa Lamakera, Minggu (9/6),” kata Agustinus Payong Boli.

Lamakera sendiri dikenal sebagai pusat peradaban penyebaran agama Islam di NTT. Di Desa Watobuku itu terdapat sebuah masjid termegah bernama Al-Ijtihad.

Tak hanya itu di daerah tersebut juga diketahui memiliki ikan pari manta jenis moku yang di dunia hanya terdapat di dua tempat dan satunya ada di Indonesia, yakni di Lamakera dan sekarang dalam pendampingan Yayasan Misol dari Amerika Serikat.

Secara umum, Wakil Bupati Agustinus Payong Boli bersama pemerintah dan masyarakat Flores Timur sangat bangga karena wilayahnya yang terletak di ujung timur Pulau Flores itu menjadi salah satu agenda kunjungan putra raja Qatar tersebut.

Emir Qatar tiba di Bandara Frans Seda Maumere menggunakan pesawat pribadinya pada Jumat (7/6). Ia tiba di salah satu kota kecil di Pulau Flores itu bersama rombongannya yang juga membawa jet pribadi sendiri.

Sementara itu, kapal pesiar milik Emir Qatar itu sudah berada di Maumere sejak Kamis (6/6) untuk digunakan berkunjung ke Flores Timur. “Kami berharap kunjungan Emir Qatar bisa mendongkrak arus kunjungan wisatawan ke NTT,” kata Kepala Biro Humas Setda NTT Marius Ardu Jelamu.

Sekilas tentang Syekh Tamim

Dilansir Pos Kupang, Syaikh Tamim bin Hamad Al Thani dikenal sebagai salah-satu Emir termuda sepanjang sejarah Qatar.

Dia diangkat menjadi Emir Qatar pada Juni 2013 saat usianya masih 33 tahun.

Syekh Tamim mewarisi kekuasaan ayahnya, Syaikh Hamad bin Khalifa Al Thani yang berkuasa selama dua dekade sebelum akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri.

Syekh Tamim menempuh pendidikan di Sherborne School, Harrow School, dan Royal Military Academy Sandhurst di Inggris dan lulus pada tahun 1998.

Syekh Tamim bin Hamad Al Thani pernah melakukan kunjungan resmi ke Indonesia pada Oktober 2017. Presiden Jokowi melakukan upacara penyambutan kunjungan resmi di halaman Istana Kepresidenan Bogor.

Syekh Tamim sempat menanam pohon eboni atau kayu hitam Sulawesi di halaman belakang istana yang menghadap ke Kebun Raya Bogor sebagai tanda persahabatan kedua negara. Lawatan Emir Qatar ke Indonesia merupakan kunjungan balasan setelah Presiden Jokowi mengunjungi negara di kawasan Teluk itu pada September 2015. @

 

408 total views, 2 views today

LEAVE A REPLY