Supadmi (50), ibu Ananda Hafidh Rifai Kusnanto (17), tak menyangka nilai ujian nasional berbasis komputer (UNBK) anaknya bisa sempurna. Hafidh merupakan siswa kelas XII IPA 6 SMAN 4 Surakarta yang sedang viral lantaran memperoleh nilai rata-rata 100 untuk setiap mata pelajaran.

Setelah sempat ragu, Supadmi baru percaya anaknya benar ketika dia melihat surat hasil ujian nasional (SHUN) sementara. Di situ, tertulis bahwa mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, Fisika, dan Bahasa Inggris anaknya memperoleh nilai 100.

“Saya itu antara percaya dan tidak percaya melihat hasil UNBK ini. Saat uji coba UNBK nilai rata-rata empat mapel itu hanya 85. Itu pun sudah terbaik di SMAN 4 Solo,” ujar Supadmi saat berbincang dengan kumparan di rumahnya Dukuh Wirogunan RT 02 /RW 03, Desa Wirogunan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa (14/5).

Supadmi, ibunda Ananda Hafidh Rifai Kusnanto, Siswa XII IPA 6 SMAN Surakarta, yang meraih nilai UNBK sempurna. Foto: kumparan

Dia mengatakan, sejak SD kelas I sampai kelas VI, anak pertama dari empat bersaudara itu sudah mulai menunjukkan kepintarannya dengan mendapatkan ranking satu di sekolah.

“Saya setiap hari hanya bekerja jualan mainan anak-anak di SDN Pucangan kompleks Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan, Kabupaten Kartasura, Sukoharjo, Jalan Solo-Yogyakarta,” kata dia.

Hasil jualan mainan tersebut, kata dia, hanya mampu membawa uang senilai Rp 50.000 per hari. Pendapatan bersih hanya Rp 30.000. Sisanya untuk modal jualan lagi. Uang senilai Rp 30.000 itu hanya cukup untuk makan sehari bersama lima keluarga. Untuk kebutuhan hidup lain, Supadmi harus meminjam duit ke salah satu koperasi yang ada di dekat rumahnya.

“Saya terpaksa harus gali lubang tutup lubang untuk membiayai sekolah keempat anak. Langganan pinjam uang saya adalah di koperasi pertanian Desa Gumpang. Sekali ambil pinjaman senilai Rp 1,5 juta. Itu pun pelunasannya sampai setahun,” ujar dia.

Ananda Hafidh Rifai Kusnanto, Siswa XII IPA 6 SMAN Surakarta, yang meraih nilai UNBK sempurna. Foto: kumparan

Selain meminjam uang di koperasi, dia juga meminjam uang tabungan milik ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) RT setempat. Sekali utang senilai Rp300.000. Besaran bunga uang pinjaman sebulan Rp10.000 per tiga bulan.

“Rumah saya ini berukuran 2 meter x 8 meter masuk RTLH (Rumah Tidak Layak Huni). Ini pun rumah warisan,” kata dia.

Ia mengaku setiap pagi harus mengantarkan empat anaknya itu ke sekolah. Paling jauh mengantarkan Hafidh ke SMAN 4 Solo yang jaraknya sekitar 4 km dari rumah. Setelah itu baru mengantarkan ketiga anaknya, Elfrida (15) di SMAN 1 Kartasura, Raditya (10) di SDN 4 Pucangan Kartasura, dan Qonita (7) SDN MIM PK Wirogunan.

“Saya harus banting tulang sendiri menyekolahkan keempat anak setelah suami (Amat Kusmanto) meninggal dunia 2016 diusia 45 tahun,” kata dia.

Sumber: kumparan.com

https://kumparan.com/@kumparannews/cerita-ibunda-hafidh-yang-gali-lubang-tutup-lubang-demi-unbk-anaknya-1r4tc0i3Kgk

64 total views, 2 views today

LEAVE A REPLY