Eksistensi Gerakan LGBT di Indonesia

MLIFE.ID – Indonesia mungkin saja menjadi salah satu negara yang masuk dalam list rawan LGBT. Bagaimana tidak? 141 kaum homoseksual baru saja melakukan pesta sex, The Wild One sesama di sebuah sauna dan tempat kebugaran di Jakarta Utara. Sebelumnya, pesta sex 14 gay juga pernah terjadi di Surabaya.

Indonesia adalah salah satu negara yang menghadapi peningkatan penyebaran HIV AIDS akibat hubungan sex antara laki-laki (MSM) di sepuluh tahun terakhir. “Berdasarkan jumlahnya, kaum gay (MSM) adalah kelompok yang mengalami pertumbuhan tercepat.” menurut Sekretaris KPA Kemal Siregar yang dikutip dalam VOA kepada Thomson Reuters Foundation.

Keberadaan LGBT di Indonesia sebenarnya telah muncul sejak awal abad ke-20 dengan tersebarnya homoseksual di kota-kota besar di Nusantara. Tetapi perkembangannya menjadi gerakan masif terorganisir baru dimulai di tahun 1960-an dengan gagasan awal dari kelompok transgender. Sedangkan mobilisasi gay dan lesbi  sendiri mulai dilakukan di tahun 1980-an dalam sebuah gerakan dengan memanfaatkan media elektronik maupun kelompok studi kecil. (https://www.usaid.gov/sites/default/files/documents/2496/Being_LGBT_in_Asia_Indonesia_Country_Report_Bahasa_language.pdf)

Image result for LGBT Indonesia

Foto: ist.

            “Being LGBT in Asia, menjadi salah satu wacana yang dikemukakan untuk peningkatan eksistensi di regional negara-negara Asia. Beberapa negara Asia yang masuk dalam target penyebaran ide ini adalah Vietnam, Cina, Filipina, Kamboja, Mongolia, Thailand, Nepal dan Indonesia. Dicetuskannya ide gagasan itu bertepatan dengan hari Hak Asasi Manusia pada tanggal 10 Desember 2012 dengan tujuan untuk mempelajari pengalaman LGBT dari perspektif pengembangan dan human rights.

Human Rights atau HAM menjadi salah satu pilar untuk melindungi dan memperluas gerakan eksistensialisme kelompok ini dalam masyarakat dunia. Kondisi ini pula dapat dihubungkan dengan politik dunia, political order  yang menghendaki kebebasan individu dan pengakuan dalam berbagai bentuk dalam satu wacana tunggal, free will atau kebebasan berkehendak dalam bingkai sistem global.

Keterbukaan gerakan LGBT dalam tuntutan hak humanities sebenarnya  telah mendapatkan tempat dalam pengakuan dunia internasional. Bertambahnya eksistensi gerakan ini tidak lepas dari dukungan dan sokongan beberapa organisasi internasional yang secara jelas menjadi funding di berbagai kegiatan LGBT seperti  USAID, UNDP dan beberapa organisasi lainnya dan NGO. Selain itu, legalitas dalam konstitusi negara besar seperti Amerika pula memberikan support secara terbuka terhadap anggota LGBT dengan mengesahkan UU Perkawinan sesama jenis beberapa tahun lalu yang berimplikasi sebagai deretan eksistensi di kancah internasional. Ide gagasan tersebut tentu dapat dipastikan akan merebak ke berbagai kawasan lainnya, tidak terkecuali negara-negara Asia yang memiliki standar religuitas dan moralitas yang tinggi. Hal ini sebagai dampak implementasi dari The New World Order yang dirancang oleh global policy maker. (https://www.youtube.com/watch?v=-klNO-AjW6M).

Fenomena meningkatnya eksistensi gerakan LGBT di Indonesia tentu tidak muncul secara tiba-tiba. Berbagai konferensi telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. “Being LGBT in Asia: : A Participatory Review and Analysis of the Legal and Social Environment for Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender (LGBT) Persons and Civil Society”,yang dilaksanakan pada tanggal 13 – 14 Juni 2013 di Bali merupakan salah satu konferensi yang menghadirkan dialektika untuk meningkatkan partisipasi LGBT di lingkungan sosial maupun konstitusi negara— Dihadiri berbagai komunitas LGBT nasional Indonesia dengan jumlah peserta 71 orang dari 49 lembaga organisasi LGBT nasional.

Peningkatan gerakan LGBT pula terjadi di ranah – ranah pendidikan. Sebagaimana wacana sebuah komunitas kampus yang mengatasnamakan konselor bagi mereka yang terdiskriminasi. Landasan yang dipegang adalah Hak Asasi Manusia (HAM) untuk diakui tanpa harus didiskriminasikan.

Melalui Declaration of Montréal yang diwakili 64 negara dan 130 negara anggota, para LGBT menyuarakan hak-hak diskriminatif untuk mendapatkan pengakuan dan tempat dalam lingkungan sosial, politik dan ekonomi.

Article 1. The right of all people to have access to pain management without discrimination

Konteks katagori diskriminasi yang dimaksud di atas adalah sebagaimana berikut yakni bebas dari usia, sex, jenis kelamin, kesehatan, ras, agama, budaya, status perkawinan, status sosial, orientasi sex dan politik serta lainnya.

This includes, but is not limited to, discrimination on the basis of age, sex, gender, medical diagnosis, race or ethnicity, religion, culture, marital, civil or socioeconomic status, sexual orientation, and political or other opinion. (http://www.iasp-pain.org/DeclarationofMontreal?navItemNumber=582)

Secara umum, tuntutan hak gerakan LGBT sesuai dengan deklarasi di atas yaitu:

  1. Perlindungan dari kekerasan negara dan perorangan
  2. Kebebasan untuk berekspresi, berkumpul dan membentuk perkumpulan
  3. Kebebasan untuk melakukan aktivitas seksual dengan sesama jenis (antara orang dewasa yang konsensual dan tidak dilakukan di depan publik)

Tiga poin di atas kurang lebih merupakan tuntutan dari komunitas LGBT dan permintaan terhadap pencabutan batas-batas moralitas yang berlaku dalam negara dan masyarakat sosial. Hal itu merupakan satu konsentrasi yang diusung gerakan ini. (http://www.declarationofmontreal.org/DeclarationofMontreal_Bahasa.pdf).

Image result for LGBT Indonesia

Foto: ist.

 

Penulis: Meilia Irawan

Sumber: Berbagai sumber

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

971 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published.