Fenomena Halal Food dan Halal Income

Datuk Dr. Asyraf Wajdi Dusuki pada Seminar Zakat, Wakafdan Sadaqah 2017 di Kuala Lumpur, 19 April 2017. Foto: Yusuf Mat Isa

Dr Asyraf Wajdi Dusuki. Foto: ist

Datuk Dr. Asyraf Wajdi Dusuki pada Seminar Zakat, Wakafdan Sadaqah 2017 di Kuala Lumpur, 19 April 2017. Foto: Yusuf Mat Isa

MLIFE.ID – Kuala Lumpur, 19 April Datuk Dr. Asyraf Wajdi Dusuki meratapi hari ini kondisi Muslim yang lebih peduli tentang status halal makanannya daripada status sumber pendapatan yang diperolehnya.

Deputi Kementeri Agama Malaysia mengatakan bahwa masyarakat mengetahui Islam hanya sebatas pada ibadah, sementara isu halal dan haram – apa yang diizinkan dan apa yang dilarang di dalam Islam – dilihat hanya terbatas pada apa yang dikonsumsi.

“Perhatian berlebih makanan halal dan label halal adalah teratas. Tetapi perhatian yang sama pula tidak boleh dibenarkan ketika uang yang dipakai tidak jelas untuk membeli makanan itu,” kata Asyraf  dalam pidatonya pada institusi – institusi Islam dan amal.

Anggota majlis pula menyampaikan ketika uang digunakan untuk mengkonsumsi daging, masyarakat sangat perhatian untuk memastikan pemotongan berdasarkan syariat, tetapi tidak sebanyak perhatian kepada uang yang digunakan untuk membelinya.

“Uang yang mereka terima untuk membeli makanan, bahkan jika berasal dari riba, bunga, korupsi, mereka tidak peduli.”

“Ini sesuatu yang nyata yang banyak ditemuakan di masyarakat kita sekarang,” kata Deputi Kementerian di Departemen Wakil Kementerian Malaysia.

Pada Senin, Menteri Datuk Seri Jamil Khir Baharom telah mengatakan bahwa otoritas tidak akan mensertifikasi isu pada produk alkohol “bir” atau produk lain yang menggunakan bahan “haram” – seperti ham atau daging babi asap.

Menurut State News Agency Bernama, Kementerian Agama mengatakan term “Halal Beer” telah melawan prosedur manual Sertifikasi Halal Malaysia.

Di bawah Trade Descriptions (Sertifikasi dan pemberi label Halal) menyatakan tahun 2011, hanya Federal Islamic Development Department – lebih dikenal dengan Malay, Jakim – dan departemen dan dewan Islam negara yang dapat mengeluarkan sertifikasi halal.

Laporan tentang makanan cepat saji seperti A&W dipanggil untuk menandatangani minuman Root Beer “RB”, di tahun 2013, agar mendapatkan sertifikasi halal untuk seluruh outlet.

Isu sertifikasi halal itu muncul pada akhir Oktober setelah sebuah eksekusi US pretzel (kue) Auntie Anne’s yang permohonan sertifikasi halalnya gagal dilakukan, di antara yang lain lebih memfokuskan pada “pretzel anjing” di menu.

Beberapa makanan siap saji restoran di Malaysia menggunakan makanan alternatif non-babi untuk ham dan bacon, seperti ham Turki dan daging babi asap. Ada juga versi vegetarian “bak kut teh”, sop sup iga babi.

 

Sumber: http://www.themalaymailonline.com/malaysia/article/muslims-care-more-about-halal-food-than-halal-income-deputy-minister-says

 

274 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published.