image_382

Bangsa yang hebat adalah bangsa yang menghargai ilmu pengetahuan,

 Menjadikan ilmu sebagai perisai dalam membangun peradaban.

 

MLIFE.ID – Menelisik sejarah dunia, kita akan mengetahui betapa sokongan ilmu berperan dalam membangun sebuah peradaban (civilization). Pendidikan menjadi bagian sentral basis dalam mencapai kesejahteraan. Kita dapat melihat sejarah Jepang dalam membangun negaranya hingga menjadi penguasa teknologi hingga saat ini. Setelah Hiroshima dan Nagasaki di bombardir oleh AS di bawah Jenderal MacArthur, Sang Kaisar tidak bertanya “Bagaimana kondisi bangunan yang tersisa? melainkan, tertuju pada sosok seorang pendidik, “berapa banyak guru yang masih tersisa?.”

Lebih jauh lagi menelisik peradaban dunia, terdapat sejarah mencengangkan yang sangat berpengaruh hingga detik ini. Institusi, Madrasah, Universitas, lembaga-lembaga resmi maupun non resmi terlahir dari sejarah awal keinginan memahami ilmu pengetahuan dan hakikat diri, Madrasah.

Dakwah merupakan basis pendidikan yang diajarkan Rasulullah. Dakwah adalah media yang sangat efektif dalam menyampaikan sebuah pemahaman terhadap masyarakat. Dakwah inilah yang nantinya akan menjadi sebuah institusi pendidikan pertama dalam Islam yang kelak berkembang menjadi sebuah sistem politik pembentuk civil society. Rumah Arqam bin Abi al-Arqam adalah institusi pendidikan pertama di dalam Islam. Di rumah sahabat inilah, Rasul menyampaikan ayat-ayat (ilmu pengetahuan berupa konsep dasar berpijak) dalam keadaan diam-diam sampai ideologi baru tertanam. Ketika Islam berhijrah dari Mekah menuju Madinah, dakwah semakin membesar sehingga tak mampu menampung ratusan orang yang ingin menuntut ilmu hingga Rasul mendirikan basis yang lebih kuat lagi dalam sebuah negara kota, Madina State. Selain rumah-rumah yang dijadikan tempat menuntut ilmu, masjid mulai dilirik dan dijadikan sarana dalam mengembangkan pemahaman tentang Islam. Hal ini pula yang dilakukan oleh para sahabat awal yakni Khulafa Ar-Rasyidin. Perkembangan ilmu pengetahuan semakin dinamis, pada masa dinasti Usmaniyah dibuatlah sebuah institusi baru yaitu Kuttab. Hasan Langgulung dalam bukunya “Asas-Asas Pendidikan Islam” tahun 1991 menyebutkan bahwa Asma Fahmi (1947) menjelaskan bahwa masjid merupakan sekolah menengah dan tinggi dalam waktu yang sama. Pada mulanya masjid digunakan untuk pendidikan rendah. Akan tetapi kaum muslimin kemudian lebih suka kelas bimbingan khusus yang tidak terjangkau anak-anak kecil karena anak-anak biasanya tidak dapat menjaga kebersihan sehingga dibentuklah Kuttab (red).

Berkembangnya kebutuhan dan kemajuan peradaban, institusi pendidikan pun berubah kembali. Pada zaman Abbasiyah, munculah Dar Al-Hikmah yang tersebar ke berbagai penjuru dunia seperti Mausil, Kaherah, Fustat dan Hilb di bawah instruksi Khalifah Al-Makmun. Dasar pendirian Dar Al-Hikmah adalah sebagai tempat untuk gerakan penerjemahan besar-besaran. Hasan Langgulung mengutip penyataan Nicholas Hans, seorang penulis Barat (1958) menganggap Dar Al-Hikmah merupakan universitas Islam pertama.

Pendidikan awal Islam menekankan pada landasan dasar berpijak dengan menekankan pada pemahaman prinsip dasar hidup dan hakikat orientasi diri sehingga memunculkan individu berkarakter yang tegas namun tidak cengeng. Ilmu pengetahuan dalam perspektif Islam dipandang sebagai sesuatu yang suci karena merupakan menifestasi Tuhan kepada manusia. Dua prinsip dasar yang tidak dapat dipisahkan dalam konsep pengetahuan Islam adalah Kesatuan dan Tingkat (Hirarki) walaupun beberapa abad ke depan, ilmuwan muslim melakukan interaksi dengan budaya lain. Para ilmuawan muslim tidak berkamuflase dan tercemari oleh budaya lain bahkan karakter diri semakin kokoh dan kuat. Penerjemahan buku-buku Yunani yang dilakukan oleh Ilmuwan sekelas Ibn Sina, Al-Kindi, Al-Farabi dan Al-Ghazali serta tokoh lainnya tidak menjadikan mereka terkena virus gegar budaya tetapi mereka mengasimilasikan ilmu dari bangsa Yunani dengan skema prinsip ideologis karakter diri.

Belajar dari sejarah dalam merespon realitas kekinian. Pendidikan modern saat ini telah tereduksi dalam berbagai kepentingan dengan arus utama materi sebagai tujuan utama. Fanatisme terhadap budaya luar bahkan sampai melakukan imitasi tengah menjajah generasi muda bangsa ini. Modernis, oportunis, skeptis, liberalis, pragmatis, instan menjadi fenomena yang harus ditangani karena dapat menggerus identitas diri dan Pendidikan serta institusinya dimanfaatkan untuk kepentingan jangka pendek yakni mendapatkan pekerjaan dan meningkatkan jabatan. Wajar jika produk yang dihasilkan pun tidak memenuhi standar. Remaja muda kehilangan jati diri, orientasi, bahkan banyak mengeluh kesana-kemari. Rasanya fenomena semacam ini tidak bisa diabaikan begitu saja dan harus segera ditangani melalui kesadaran diri dalam memahami epistemologi (ilmu).

 

Sumber: dari berbagai sumber

Penulis: Meilia Irawan

 

 

311 total views, 2 views today

LEAVE A REPLY